Perkembangan toilet kereta api

Sempat dipandang sebelah mata begini perkembangan toilet kereta api

Keberadaan alat trasportasi kereta api turut menjadi bagian penting dari sejarah bangsa Indonesia. Kereta api lokomotif sudah ada sejak tahun 1867, yakni pada era tanam paksa oleh pemerintah hindia Belanda pada masa itu.  Transportasi kereta api dianggap vital untuk mengangkut hasil bumi dan kebutuhan militer.

Puncak kejayaan kereta api lokomotif Hindia Belanda berlangsung sekitar 1920-an. Banyak orang Eropa yang memuji sistem kereta api di Pulau Jawa yang rapi sampai, disebut – sebut terbaik nomor satu di Asia.

Namun, kenyamanan toilet di dalam kereta api belum menjadi prioritas utama sampai akhir – akhir ini. Perkembangannya dari tahun ke tahun begitu lambat tidak mendapat perhatian dan terkesan selalu jorok. Tidak heran banyak penumpang kereta api, hingga kru kereta api yang engan buang air di toilet kereta api.

Tips aman dan nyaman menggunakan toilet kereta api

Tips aman dan nyaman menggunakan toilet kereta api

Selama puluhan tahun, kereta api Indonesia memiliki bilik toilet plung lap, yaitu istilah untuk menyebut toilet bolong. Maksudnya, ketika penumpang buang air di toilet kereta api, maka hasil ekskresinya berupa feses dan urine akan langsung jatuh ke rel dan tercecer. Tanpa masuk terlebih dahulu ke tempat penampungan.

Toilet bolong ini tak dilengkapi bak penampung, WC biasanya terbuat dari stainless steel dan berada di bilik sempit yang bau. Kebanyakan penumpang merasa lebih baik menahan ‘panggilan alamnya‘ hingga stasiun tujuan, dari pada berurusan dengan toilet itu.

Tak hanya penumpang yang mengeluhkan toilet bolong kereta api ini. Hasil ekskresi yang langsung jatuh ke tanah juga meresahkan masyarakat di luar kereta.

Toilet bolong ini masih digunakan di seluruh kereta jarak jauh di Pulau Jawa hingga 2010. Pada September 2010, PT KAI yang saat itu dipimpin Ignasius Jonan, meluncurkan Toilet Ramah Lingkungan (TRL) pada kereta Argo Lawu jurusan Jakarta-Solo. Angin segar itu kemudian diikuti instalasi pada kereta-kereta lainnya.

Berbeda dengan toilet bolong, TRL dilengkapi sistem penampungan atau septic tank. Tinja dan urin tidak tercecer jatuh ke rel bahkan bak penampungan juga diberi mikroba pengurai agar isinya sudah tidak terlalu bau saat dikeluarkan.

Selain sistem penampungan, toilet kereta api kini juga dilengkapi dengan flush, hand shower closet, wastafel, dan sabun cuci tangan. Kondisi ini jauh lebih baik dan membuat penumpang tak segan buang air di sana.

Beberapa kereta seperti Argo Parahyangan memiliki toilet duduk hampir senyaman toilet di pesawat. Tentu sebagai penumpang kita harus ikut menjaga kebersihan fasilitas vital tersebut.Continue reading