Buang air kecil harus jongkok atau boleh berdiri ?
Meski terkesan masalah sepele, namun buang hajat atau kencing rupanya harus menjadi perhatian. Di dalam agama Islam sudah mengatur semua sendi kehidupan, termasuk dari hal yang paling kecil seperti makan, tidur, hingga buang hajat. Ketika ingin membuang hajat atau buang air kecil pun, terdapat aturan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Tujuannya supaya jangan sampi kotoran atau najis dari air kecil tersebut membuat ibadah shalat yang kita lakukan menjadi tidak sah.
Lantas bagaimana aturan buang air kecil menurut agama Islam, utamanya bagi laki – laki ? apakah buang air kecil harus jongkok atau boleh berdiri ?
Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Ma’arif Natar Lampung, KH. Ahmad Ghazali Assegaf, mengatakan bahwa kencing sambil berdiri bagi seorang laki-laki memang tidak dilarang. Menurutnya, kencing sambil berdiri diperbolehkan jika ia tidak khawatir tidak terkena kotoran dari percikan air kencing bersangkutan dan jika ia tidak khawatir atau merasa aman dari penglihatan orang lain. Dalil tentang dibolehkannya kencing sambil berdiri ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dikatakan, bahwa suatu hari Rasulullah saw datang ke sebuah kaum, lalu beliau kencing sambil berdiri.

Buang air kecil harus jongkok atau boleh berdiri ?
Akan tetapi, menurutnya, lebih afdhol (utama) jika kencing dilakukan sambil jongkok atau duduk. Sebagaimana dijelaskan oleh Aisyah ra dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi, bahwa Aisyah mengatakan, “Jika ada orang yang mengatakan bahwa Nabi saw buang air kecil sambil berdiri, maka jangan engkau percaya, karena Nabi saw tidak pernah kencing kecuali sambil duduk.”
“Di sini mayoritas ulama mengatakan hukumnya makruh kencing sambil berdiri. Jika bisa duduk atau jongkok, maka lebih baik kencing sembari duduk atau jongkok,” kata Ustaz Ahmad, melalui pesan elektronik kepada kami.
Selain lebih bersih dan aman dari najis, ia mengatakan bahwa kencing sambil jongkok atau duduk juga lebih menyehatkan secara kesehatan. Pasalnya, air kencing akan keluar lebih sempurna saat buang hajat dengan duduk atau jongkok serta mengurangi risiko dari penyakit prostat.
Selain pertanyaan buang air kecil harus jongkok atau boleh berdiri ? yang sering ditanayakan. Pada dasarnya, buang air kecil di dalam Islam harus dilakukan dengan tuntas hingga tetesan terakhir. Hal ini dilakukan agar air kencing tidak mengenai pakaian dan anggota tubuh. Rasulullah saw bahkan pernah mengingatkan para sahabatnya agar menuntaskan dan membersihkan diri dari kencing.
Seperti diriwiyatkan oleh Imam al-Daruquthni dari Anas bin Malik, Nabi saw bersabda, “Bersihkanlah diri kalian dari air kencing. Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur berasal darinya.”
Dari hadits tersebut bisa dipetik pelajaran bahwa buang air kecil pun tidak boleh dianggap sepele. Sebab, dari kencing yang tidak bersih rupanya bisa menjadi penyebab siksa kubur.
Oleh sebab itu, setelah buang air kecil, Ustaz Ahmad mengatakan dianjurkan untuk memastikan bahwa air kencing sudah tuntas sampai habis. Hal itu bisa dilakukan di antaranya dengan berdehem.
Beliau menjelaskan, dengan berdehem akan menekan bagian perut dan saluran pembuangan air kencing sehingga air kencing bisa habis. Selain berdehem, ada cara lain yang bisa dilakukan yaitu dengan mengurut batang kemaluan.
“Dan pada beberapa percobaan sederhana, jika buang air kecil dengan posisi duduk maka dengan sedikit berdiri kemudian jongkok lagi. Jika itu suda dilakukan, InsyaAllah air kencing sudah habis,” tambahnya.
Tata cara buang air kecil tersebut seperti yang dinyatakan dalam kita Bidayatul hidayah, Imam Ghazali mengatakan, “Dan hendaknya kamu menuntaskan air kencing dengan berdehem dan disentil sebanyak tiga kali, serta mengurutkan tangan kiri dari bagian bawah batang kemaluan.”
Bagaimana sudah jelas mengenai jawaban buang air kecil harus jongkok atau boleh berdiri ? diatas, semoga dengan adanya artikel ini bisa bermanfaat untuk kita semua.