Kisah tukang sedot wc berjuang membereskan yang sudah terbuang
Bagi sebagian orang, pekerjaan menyedot tinja mungkin bukan pilihan, tapi, tidak sedikit juga yang menggantungkan hidup pada pekerjaan yang lekat dengan kotoran manusia itu. Kami mewawancarai dua orang di antaranya, meluncurkan kisah-kisah di balik pekerjaan mereka, dari yang mulanya malu-malu tapi mau, sampai akhirnya mantap pada pekerjaan tersebut.
Senin sore (2/1/2022), Yadi (42) ikut serta bersama dua orang anak buahnya untuk menyedot water closet (wc) di sebuah rumah kawasan Pacar Kembang, KecamatanTambaksari, Kota Surabaya. Lelaki ini kini berstatus sebagai mandor alias sopir mobil tangki penyedot tinja yang mereka kendarai.
Mobil tangki berwarna kuning blonde dominan terparkir di halaman rumah, dengan posisi pantat mobil itu mengarah ke belakang, mendekat ke septic tank agar tidak banyak memakan jarak antara selang penyedot dengan penampung kotoran tersebut. Jarak antara selang dan septic tank bisa masuk dalam hitungan harga jasa untuk penambahan selang akan dikenai biaya tambahan biasanya.

Yadi (42) Tukang sedot WC sedang menyedot tinja di kawasan Pacar Kembang Surabaya
Yadi berkerja bersama dengan dua anak buahnya sesampainya dilokasi, kedua anak buah Yadi bergegas turun. Salah satunya menarik selang spiral ke belakang, satu lagi menuju ke kamar mandi, mengisi air ke timba besar yang akan mereka gunakan untuk membersihkan ujung selang ketika pekerjaan selesai agar sisa kotoran tidak tercecer ke mana-mana.
Lelaki itu mengarahkan ujung selang ke mulut septic tank dengan senter di kepalanya menyala untuk menerangi pekerjaan yang dia lakukan. Sesaat kemudian, mesin vakum penyedot dari mobil tangki menyala dan mengeluarkan suara yang menderu-deru.
Selang sempat menggeliat pada tarikan pertama namun kemudian terasa lebih stabil. Penyedotan tidak memakan waktu lama, bahkan tidak sampai enam puluh menit sampai semua selesai dan selang penyedot telah terikat kembali di mobil.
Yadi yang tidak ikut serta dengan apa yang sedang anak buahnya kerjakan tampak duduk di atas undakan tangga rumah. Bercelana hitam, memakai baju wana hijau, serta topi baseball yang sengaja ia putar ke belakang, lelaki itu mengaso sambil merokok, bercakap-cakap dengan penghuni rumah sambil terus mengawasi pekerjaan kedua anak buahnya.
Ada dua jenis septic tank menurut Yadi, yaitu jenis bulat dan petak. Pengguna jenis kedua biasanya adalah kantor atau gedung yang memiliki penghuni lebih banyak karena daya tampungnya juga lebih besar dari jenis yang bulat.
Dari kedua jenis, yang paling memakan waktu penyedotan paling lama adalah yang petak. Bahkan, apabila tangki penampung telah lebih dulu terisi, adakala mereka perlu membuang terlebih dahulu hasil sedotan tinja yang telah menumpuk.
“Biasanya kami buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Bayar Rp 150 ribu. Atau, ada peternak kambing yang minta, kami kasih,” terang Yadi.
Untuk harga jasa penyedotan tinja, septic tank petak mencapai Rp350 ribu sekali sedot tapi tergantung daya tampung, karena, semakin besar berarti semakin mahal. Untuk septic tank bulat biasanya Rp850 ribu per sekali sedot.
Kadang-kadang, mereka harus berhadapan dengan septic tank yang isinya telah mengeras. Ini berarti kerja ekstra, dan bayarannya lebih mahal, biasanya Rp950 ribu.
“Kotoran yang telah mengeras harus kita aduk, siram dengan air. Biasanya kami tuang adonan (kotoran) itu dengan minyak kayu putih. Itu untuk menyamarkan bau,” tambahnya.