Tugas berat pasukan oranye membersihkan saluran air dan gorong – gorong
Beberapa titik di wilayah Ibu Kota mendapatkan predikat waspada ketika memasuki musim penghujan. Hal tersebut lantaran meski intensitas hujan tidak berlangsung lama, di Jakarta dengan mudah ditemukan genangan, hingga banjir. saat ini wilayah yang sering terkena banjir berada di Jakarta Selatan, di antaranya Cilandak, Kemang, Jati Padang, Mampang Prapatan, Jagakarsa, hingga Tanah Kusir.
Pemprov Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki cara jitu untuk menangulangi banjir supaya cepat surut, yaitu dengan mengerahkan Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di setiap kelurahan yang sering terkena banjir. Pasukan oranye, sebutan lain untuk petugas PPSU, mereka bekerja siang dan malam untuk menangani ataupun mengantisipasi banjir. Karena memiliki tugas ganda, tidak heran jika petugas PPSU lebih banyak bersentuhan dengan gorong –gorong.
Kami sempat menemui mereka ketika bertugas membersihkan selokan warga di RT 05 RW 07, Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, belum lama ini. Beberapa petugas oranye terlihat mengangkut sampah maupun lumpur dari selokan yang airnya nampak berwarna hitam tersebut.

Tugas berat pasukan oranye membersihkan saluran air
Salah satu anggota dari pasukan oranye tersebut, Bapak Darmawan usia 42 Tahun, mengatakan, jika keluar – masuk ke dalam selokan sudah menjadi tugasnya sehari – hari tujuannya supaya saluran air bisa berjalan lancar ketika hujan turun. Dia beserta rekan – rekannya memiliki tanggu jawab untuk menyingkirkan segala hal yang menghambat saluran air yang nantinya akan berpotensi menyebabkan banjir.
Darmawan mengaku, tugasnya adalah merespons keluhan warga di lingkungannya. Menurut dia, PPSU wajib bergerak cepat terjun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan persoalan warga. “Tergantung permintaan warga juga, kita kadang masuk gorong-gorong juga,” ujarnya.
Darmawan mengatakan, petugas PPSU tidak hanya membersihkan selokan, tapi juga saluran air yang mampet. Tugas memotong rumput yang mulai memanjang agar tampak rapi juga masuk ranah pasukan oranye. Baginya, setiap ada masalah harus segera diselesaikan agar tidak terbengkalai. “Untuk antisipasi musim hujan itu, saya sampai malam, dari jam tujuh pagi tadi sampai jam tujuh malam lagi. Itu kalau lagi pas piket kayak hari ini, 24 jam tetap siaga,” ucap Darmawan.
Menurut dia, setiap sepekan sekali petugas PPSU yang tergabung dalam grup mendapat bagian untuk bersiaga sehari penuh. Darmawan melanjutkan, grup PPSU yang bertugas piket hari itu berjumlah 10 orang yang berasal dari RT dan RW berbeda. Saat bertugas, mereka selalu membawa alat-alat sesuai prosedur operasi standar (SOP), seperti cangkul, linggis, sapu, pengki, alat kebersihan, serta karung untuk memungut sampah.
“Satu grup itu satu pekan sekali. Jadi, nggak tiap hari, pas piket aja. Kalau rutinnya, saya tugas wilayah di RT 01 RW 02. Kalau lagi dapat begini, kita muter jadinya ke RW lain,” kata laki-laki yang akrab dipanggil Japra tersebut.
Karena kelurahan Pejaten Timur berdekatan dengan Sungai Ciliwung, terkadang timnya juga bersiaga menghadapi banjir. Apalagi, seperti di wilayah Jalan Gunuk dan Pagujaten, tepat berada di bantaran Sungai Ciliwung. Ketika sungai terbesar di Jakarta itu meluap, tentu berpotensi membuat rumah warga sekitar terendam. Untuk itu, kalau ada warga yang butuh pertolongan, pasukan oranye diharapkan hadir sesegera mungkin.
Menurut Darmawan, petugas PPSU pasti siaga ketika hujan besar terjadi dalam waktu cukup lama. “Di Kali Ciliwung juga kita siagakan, kalau ada laporan dari warga. Itu tanggung jawab kita juga. Ya, kita harus siaga. Kalau ada laporan banjir, mau nggak mau kita langsung turun ke sana.”
Darmawan menuturkan, selama sebulan sekali ia mendapatkan bayaran dari Pemprov DKI sebesar Rp 3,1 juta. Angka itu disamakan dengan upah minimum provinsi (UMP) DKI. Dia mengaku, bayaran yang diterimanya tidak pernah telat. Karena itu, kata dia, istri dan anak-anaknya pun rela jika ia tidak pulang ke rumah saat bertugas piket. Hal yang membuatnya senang, ia juga didaftarkan sebagai peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
“Kalau keluarga sendiri biasa aja karena udah ada jaminan gaji tiap bulan, apalagi ada BPJS-nya juga,” ucapnya.
Darmawan mengungkapkan, sejak menjadi petugas oranye pada 2015, ekonomi keluarganya cukup terbantu. Sebelumnya, ia menjadi tukang ojek untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dia mengaku suka dengan menjadi PPSU karena setiap harinya bersentuhan dengan masalah kebersihan.
Darmawan dan beberapa rekannya tidak bisa sekadarnya. Setiap hari selalu ada bosnya yang memantau langsung pekerjaannya. Kala itu, koordinator Agus Supriyanto datang memeriksa saluran air. Sangat mudah mengidentifikasi Agus lantaran ia tidak memakai seragam oranye, dan malah mengenakan pakaian hitam dan bertopi ala koboi.
Agus menjelaskan, kewenangannya adalah membawahkan pasukan oranye di bawah Kelurahan Pejaten Timur. Dia menuturkan, ada 70 petugas PPSU yang siap dikontak kapan pun untuk mengatasi permasalahan lingkungan. “Di Pejaten Timur ini ada 70 orang yang meng-handle enam zona di masing-masing RW,” ujarnya.
Berstatus sebagai koordinator, Agus bertugas memeriksa semua zona di Pejaten Timur. Terutama saat musim hujan datang, ia meningkatkan kinerjanya untuk mengatur terkait jumlah orang yang bertugas setiap harinya dan masalah teknis lainnya. Meski sudah dibagi-bagi, kadang ada juga petugas yang diperbantukan di grup lain kalau memang ada kebutuhan mendadak.
“Per zona biasanya ada sekitar delapan sampai sembilan orang dari jumlah enam zona di Pejaten Timur,” kata Agus.
Memasuki musim hujan seperti sekarang, sambung dia, anggotanya telah melakukan sejumlah antisipasi. Kerena itu, tidak hanya selokan di pinggir jalan yang dibersihkan, belum lama ini pasukan oranye juga membersihkan gorong-gorong yang berada di selatan Stasiun Pasar Minggu menuju ke arah Poltangan. Hal itu dilakukan untuk menjamin seluruh saluran air berfungsi sempurna.
Agus juga menjelaskan, ada tugas lain yang dilakukan pasukan oranye, yaitu melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap warga yang membuang sampah sembarangan. Terhadap warga yang bandel tersebut, pihaknya ditemani Satpol PP untuk menangkap warga yang kedapatan seenaknya menjadikan selokan sebagai tempat sampah. Pihaknya tidak main-main untuk menindak tegas siapa pun yang terbukti membuang sampah tidak pada tempatnya. “Apalagi di depan Pasar Minggu itu kita juga ada OTT, operasi tangkap tangan. Meskipun bukan warga sini kita tangkap dan KTP-nya kita tahan,” ucap Agus.
Menurut Agus, pada musim banjir tugas berat pasukan oranye akan semakin bertambah, pasukan oranye akan membersihkan saluran air, seperti melakukan pengerukan lumpur dan mengangkat sampah yang berada di sepanjang saluran air tersebut. Tidak hanya itu saja, dia bersama anggotanya juga bertugas mengurus genangan – genangan air di jalan protokol.
Dalam mengemban tugas sebagai coordinator puluhan petugas oranye, Pak Agus merasa jika tidak begitu terbebani. Dirinya mengaku sudah terbiasa dan justru menikmati pekerjaan tersebut. Karena dengan melakukan semua pekerjaan sebagai petugas oranye, ia merasa telah membantu orang lain.
Gaji Pak Agus sebagai koordinator sama dengan gaji petugas PPSU lainnya meskipun tugasnya lebih berat dari pada anggota lainnya. Selain harus ikut serta turun ke lapangan, dirinya juga harus mengatur penugasan pasukan oranye tersebut. “kadang kita penyisiran sampah, kita ambilin plastik yang dibuang sembarangan juga. Gajinya sama saja sih dengan yang lain. Tapi, Alhamdulillah cukup.”
Agus mengaku selain karena alasan kebutuhan ekonomi, dirinya menjadi petugas PPSU sejak satu tahun lalu juga didorong alasan gotong royong di kalangan warga sudah mulai berkurang. Karena itu dirinya ikhlas menjalani pekerjaan sebagai tukang bersih – bersih gorong – gorong ini. “itung – itung ibadah lah,” tutupnya.